Selasa, 12 Juni 2012

proses penuaan


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar belakang      ………………………………...…………………… 1
1.2.Tujuan penulisan   ……………………………………………….…….. 1
1.3.Sistematika penulisan       ….…….……………………………………. 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Lansia dan Batasan Lansia     ……………….…………….. 3
2.2 Pengertian Proses Penuaan     …….……………………………………. 6
2.3 Teori-Teori Proses Penuaan   ………………………………..………… 7
2.4 Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia     ………………………………. 12
2.5 Tugas Perawat Dalam Setiap Proses Penuaan     ……………………… 18
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan  …………………………………………………………... 22
            3.2 Saran  …………………………………………………………………. 22
DAFTAR PUSTAKA








1.3  Sistematika penulisan
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar belakang
1.2.Tujuan penulisan
1.3.Sistematika penulisan
BAB II PEMBAHASAN
            2.1 Pengertian Lansia dan Batasan Lansia
            2.2 Pengertian Proses Penuaan
            2.3 Teori-Teori Proses Penuaan
            2.4 Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia
            2.5 Tugas Perawat Dalam Setiap Proses Penuaan
BAB III PENUTUP
            3.1 Kesimpulan
            3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA









KATA PENGANTAR


Puji dan Syukur kami Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas tentang PROSES PENUAAN.
Dalam penyusunan makalah ini, kami banyak mendapat tantangan dan hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Olehnya itu, kami  mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.kami  menyadari bahwa makalah  ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun  materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan  manfaat kepada kita sekalian.










Cianjur,   mei 2012


                                                                                                                    Penulis







     BAB  1
PENDAHULUAN

1.1.            Latar Belakang

Bertambahnya usia selalu meninggalkan  bekas pada setiap  makhluk hidup.,dan prinsip ini berlaku bagi semua tingkat oragnisasi(molekul,sel, organ, danorganism). Rentang hidup manusia menunjukkan periode perkembangan secara bertahap dengan  meningkatnya efisiensi tubuh pada  masa anak-anak dan remaja sampa mencapai tingkat kematangan. Setelah melalui periode yang panjang dengan perubahan yang kecil, terjadilah penurunan bertahap dalam  kekuatan ,khususnya kekuatan fisik. Ini biasa disebut periode menua.(Zarb G.A,2002)
Proses penuaan adalah  proses yang  tersembunyi, dan permulaannya berbeda-beda antara tiap individu, demikian pula kecepatan  penurunannya. Perubahan  ini meliputi perubahan kekuatan jantung, penurunan sekresi cairan pencernaan ,penurunan aktivitas endokrin. Pada tingkatan psikologis, proses penuaan  ini ditandai dengan  melambatnya waktu  beraksi, melambatnya  proses belajar, serta penurunan daya ingat dan efisiensi  intelektual. (G.A, 2000)
1.2.                            Tujuan
1.2.1.      Tujuan Umum
Setelah pembelajaran  modul  ini selesai, mahasiswa diharapkan  mampu  menjelaskan  tentang  proses penuaan  serta dampak dan perubahan-perubahan  yang  terjadi dalam  rongga mulut lansia baik secara fisiologis, morfologi maupun patologis.

1.2.2.      Tujuan Khusus

Mahasiswa dapat memahami :

1.      Menjelaskan tentang  pengertian dan batasan lansia

2.      Menjelaskan tentang  pengertian proses penuaan

3.      Menjelaskan tentang teori-teori penuaan



BAB II
PEMBAHASAN


2.1. Pengertian Lansia dan Batasan Lansia

Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Dalam  mendefinisikan batasan penduduk lanjut usia menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana  Nasional ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu aspek biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial (BKKBN 1998)
Secara biologis penduduk lanjut usia adalah  penduduk  yang  mengalam i  proses penuaan secara terus menerus, yang ditandai dengan  menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan  kematian. Hal ini disebabkan  terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.
Beberapa pendapat mengenai batasan umur  lansia.
MENURUT ORGANISASI KESEHATAN DUNIA
Lanjut usia meliputi:
  • Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.
  • Lanjut usia (elderly) = antara 60 dan 74 tahun
  • Lanjut usia tua (old) = antara 75 dan 90 tahun
  • Usia sangat tua (very old) = diatas 90 tahun
MENURUT Prof. Dr. Ny. SUMIATI AHMAD MOHAMMAD
Membagi periodisasi biologis perkembangan manusia sebagai berikut:
  • 0-1 tahun = masa bayi
  • 1-6 tahun = masa prasekolah
  • 6-10 tahun = masa sekolah
  • 10-20 tahun = masa pubertas
  • 40-65 tahun = masa setengah umur (prasenium)
  • 65 tahun keatas = masa lanjut usia ( senium)
MENURUT Dra. Ny. JOS MASDANI (psikolog UI)
Lanut usia merupakan kelanjutan dari usia dewasa. Kedewasaan dapat dibagi menjadi empat bagian
  • Fase iuventus, antara 25 sampai 40 tahun
  • Fase vertilitas, antara 40 sampai 50 tahun
  • Fase prasenium, antara 55 sampai 65 tahun
  • Fase senium, 65 tahun hingga tutup usia
MENURUT Prof. Dr. KOESMANTO SETYONEGORO
Pengelompokan lanjut usia sebagai berikut;
  • Usia dewasa muda (elderly adulhood), 18 atau 29-25 tahun.
  • Usia dewasa penuh (middle years) atau maturitas, 25-60 tahun atau 65 tahun
  • Lanjut usia (geriatric age) lebih dari 65 tahun atau 70 tahun
o    70-75 tahun (yaoung old)
o    75-80 tahun (old)
o    Lebih dari 80 (very old)
      MENURUT UU No. 4 Tahun 1965
Dalam pasal 1 dinyatakan sebagai berikut: seorang dapat dikatakan  sebagai  jompo atau lanjut usia setelah yang bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain
(sekarang tidak relevan lagi)
MENURUT UU No. 13/Th.1998 tentang kesejahteraan lanjut usia yang berbunyi sebagai berikut;
BAB 1 Pasal 1 Ayat 2 yang berbunyi:
Lanjut usia adalah  seseorang yang  mencapai usia 60 (enam puluh) tahun keatas.
Birren and Jenner (1997) membedakan usia menjadi tiga;
  • Usia biologis;
Yang menunjuk kepada jangka waktu  seseorang sejak lahirnya berada dalam keadaan hidup dan mati
  • Usia psikologis
Yang menunjuk pada kemampuan seseorang untuk mengadakan  penyesuaian-penyesuaian kepada situasi yang dihadapinya.
  • Usia sosial
Yang menunjuk kepada peran-peran yang diharapkan atau diberikan  masyarakat  kepada seseorang sebungan dengan usianya.










2.2. Pengertian Proses Penuaan
Penuaan adalah  konsekuensi yang tidak dapat dihindarkan. Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memeperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantindes, 1994)
Proses menua bukan merupakan suatu penyakit, melainkan suatu masa atau  tahap hidup manusia, yaitu; bayi, kanak-kanak, dewasa, tua, dan lanjut usia. Orang mati bukan karena lanjut usia tetapi karena suatu penyakit, atau juga suatu kecacatan.
Akan tetapi proses menua dapat menyebabkan berkurangnya daya tahan tubuh dalam nenghadapi rangsangan dari dalam  maupun luar tubuh. Walaupun demikian, memang harus diakui bahwa ada berbagai penyakit yang sering menghinggapi kaum lanjut usia.
Proses menua sudah mulai berlangsung sejak seseorang mencapai usia dewasa. Misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan saraf, dan jaringan lain sehingga tubuh mati sedikit demi sedikit.
Sebenarnya tidak ada batas yang tegas, pada usia berapa penampilan seseorang mulai menurun. Pada setiap orang, fungsi fisiologis alat tubuhnya sangat berbeda, baik dalam  hal pencapain puncak maupun  menurunnya.



2.3. Teori-Teori Proses Penuaan
TEORI BIOLOGI
·         TEORI SELULER
Kemampuan sel hanya dapat membelah dalam jumlah tertentu dan kebanyakan sel-sel tubuh “diprogram” untuk membelah 50 kali. Jika sebuah sel pada lansia dilepas dari tubuh dan dibiakkan di laboratorium, lalu diobservasi, jumlah sel-sel yang akan membelah, jumlah sel yang akan membelah akan terlihat sedikit. (Spence & Masson dalam Waton, 1992). Hal ini akan memberikan beberapa pengertian terhadap proses penuaan biologis dan menunjukkan bahwa pembelahan sel lebih lanjut mungkin terjadi untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan, sesuai dengan berkurangnya umur.
Pada beberapa sistem, seperti sistem saraf, sistem muskuloskeletal dan jantung, sel pada jaringan dan organ dalam sistem itu tidak dapat diganti jika sel tersebut dibuang karena rusak atau mati. Oleh karena itu, sistem tersebut beresiko mengalami proses penuaan dan mempunyai kemampuan yang sedikit atau tidak sama sekali untuk tumbuh dan memperbaiki diri. Ternyata sepanjang kehidupan ini, sel pada sistem ditubuh kita cenderung mangalami kerusakan dan akhirnya sel akan mati, dengan konsekuensi yang buruk karena sistem sel tidak dapat diganti.
·         TEORI “GENETIK CLOCK”
Menurut teori ini menua telah diprogram secara genetik untuk species-species tertentu. Tiap species mempunyai didalam nuclei (inti selnya) suatu jam genetik yang telah diputar menurut suatu replikasi tertentu. Jam ini akan menghitung mitosis dan menghentikan replikasi sel bila tidak berputar, jadi menurut konsep ini bila jam kita berhenti kita akan meninggal dunia, meskipun tanpa disertai kecelakaan lingkungan atau penyakit akhir yang katastrofal.
Konsep genetik clock didukung oleh kenyataan bahwa ini merupakan cara menerangkan mengapa pada beberapa species terlihat adanya perbedaan harapan hidup yang nyata. (misalnya manusia; 116 tahun, beruang; 47 tahun, kucing 40 tahun, anjing 27 tahun, sapi 20 tahun)
Secara teoritis dapat dimungkinkan memutar jam ini lagi meski hanya untuk beberapa waktu dengan pangaruh-pengaruh dari luar, berupa peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit atau tindakan-tindakan tertentu.
Usia harapan hidup tertinggi di dunia terdapat dijepang yaitu pria76 tahun dan wanita 82 tahun (WHO, 1995)
Pengontrolan genetik umur rupanya dikontrol dalam tingkat seluler, mengenai hal ini Hayflck (1980) melakukan penelitian melalaui kultur sel ini vitro yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara kamampuan membelah sel dalam kultur dengan umur spesies.
Untuk membuktikan apakan yang mengontrol replikasi tersebut nukleus atau sitoplasma, maka dilakukan trasplantasi silang dari nukleus.
Dari hasil penelitian tersebut jelas bahwa nukleuslah yang menentukan jumla replikasi, kemudian menua, dan mati, bukan sitoplasmanya (Suhana, 1994)
SINTESIS PROTEIN (kolagen dan elastin)
Jaringan seperti kulit dan kartilago kehilangan elastisitasnya pada lansia. Proses kehilangan elastisitas ini dihubungkan dengan adanya perubahan kimia pada komponen perotein dalam jaringan tersebut. Pada lansia beberapa protein (kolagen dan kartilago, dan elastin pada kulit) dibuat oleh tubuh dengan bentuk dan struktrur yang berbeda dari protein yang lebih muda. Contohnya banyak kolagen pada kartilago dan elastin pada klulit yang kehilangan fleksibilitasnya serta menjadi lebih tebal, seiring dengan bertambahnya usia. (Tortora & anagnostakos, 1990) hal ini dapat lebih mudah dihubungkan dengan perubahan permukaan kulit yang kehilangan elastisitasnya dan cenderung berkerut, juga terjadinya penurunan mobilitas dan kecepatan pada sistem muskuloskeletal.
·         KERACUNAN OKSIGEN
Teori tentang adanya sejumlah penurunan kemampuan sel didalam tubuh untuk mempertahankan diri dari oksigen yang mengandung zat racun dengan kadar yang tinggi, tanpa mekanisme pertahan diri tertentu.
Ketidak mampuan mempertahankan diri dari toksik tersebut membuat struktur membran sel mangalami perubahan dari rigid, serta terjadi kesalahan genetik. (Tortora & anagnostakos, 1990)
Membran sel tersebut merupakan alat untuk memfasilitasi sel dalam berkomunikasi dengan lingkungannya yang juga mengontrol proses pengambilan nutrien dengan proses ekskresi zat toksik didalam tubuh. Fungsi komponen protein pada membran sel yang sangat penting bagi proses diatas, dipengaruhi oleh rigiditas membran tersebut. Konsekuensi dari kesalahan genetik adalah adanya penurunan reproduksi sel oleh mitosis yang mengakibatkan jumlah sel anak di semua jaringan dan organ berkurang. Hal ini akan menyebabkan peningkatan kerusakan sistem tubuh.
·         SISTEM IMUN
Kemampuan sistem imun mengalami kemunduran pada masa penuaan. Walaupun demikian, kemunduran kamampuan sistem yang terdiri dari sistem limfatik dan khususnya sel darah putih, juga merupakan faktor yang berkontribusi dalam proses penuaan.
Mutasi yang berulang atau perubahan protein pasca translasi, dapat menyebabkan berkurangnya kamampuan sistem imun tubuh mengenali dirinya sendiri (self recognition). Jika mutasi somatik menyebabkan terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel, maka hal ini akan dapat menyebabkan sistem imun tubuh menganggap sel yang megalami perubahan tersebut sebagi sel asing dan menghancurkannya. Perubahan inilah yang menjadi dasar terjadinya peristiwa autoimun (Goldstein, 1989)
Hasilnya dapat pula berupa reaksi antigen antibody yang luas mengenai jaringan-jaringan beraneka ragam, efek menua jadi akan menyebabkan reaksi histoinkomtabilitas pada banyak jaringan.
Salah satu bukti yang ditemukan ialah bertambahnya prevalensi auto antibodi bermacam-macam pada orang lanjut usia (Brocklehurst, 1987)
Disisi lain sistem imun tubuh sendiri daya pertahanannya mengalami penurunan pada proses menua, daya serangnya terhadap sel kanker menjadi menurun, sehingga sel kanker leluasa membelah-belah. Inilah yang menyebabkan kanker yang meningkat sesuai dengan meningkatnya umur (Suhana, 1994)
Teori atau kombinasi teori apapun untuk penuaan biologis dan hasil akhir penuaan, dalam pengertian biologis yang murni adalah benar. Terdapat perubahan yang progresif dalam kemampuan tubuh untuk merespons secara adaptif (homeostatis), untuk beradaptasi terhadap stres biologis. Macam-macam stres dapat mencakup dehidrasi, hipotermi, dan proses penyakit. (kronik dan akut)

TEORI PSIKOLOGIS
·         TEORI PELEPASAN
Teori pelepasan memberikan pandangan bahwa penyesuaian diri lansia merupakan suatu proses yang secara berangsur-angsur sengaja dilakukan oleh mereka, untuk melepaskan diri dari masyarakat.
·         TEORI AKTIVITAS
Teori aktivitas berpandangan bahwa walaupun lansia pasti terbebas dari aktivitas, tetapi mereka secara bertahap mengisi waktu luangnya dengan melakukan aktivitas lain sebagai kompensasi dan penyusuauian.
ASPEK PSIKOLOGIS AKIBAT LANJUT USIA
Aspek psikologis pada lansia tidak dapat berlangsung tampak. Salah satu pengertian yang umum tentang lansia adalah bahwa mereka mempunyai kemampuan memori dan kecerdasan mental yang kurang.
Penelitian tentang kemampuan aspek kognitif dan kemampuan memori pada lansia dalam kelompok dan kemampuan mereka untuk memcahkan masalah, ternyata tidak mendukung gambaran diatas. Adalah benar bahwa banyak lansia mempunyai cara berbeda dalam memecahkan masalah, bahkan mereka dapat melakukannya dengan baik walaupun kondisinya menurun. Akan tetapi, juga terdapat bukti bahwa lansia mengalami kemunduran mental yang substansil atau luas.

KEPERIBADIAN, INTELEGENSIA, DAN SIKAP
Meskipon sulit untuk mendefenisikan dan mengukur keperibadian, namun upaya ini tetap dilakukan untuk mengubah sedikit pemikiran tentang lansia. Walaupun mengalami kontroversi, tes intelegensia dengan jelas memperlihatkan adanya penurunan kecerdasan pada lansia (Cockburn & Smith, 1991).


Hal ini tidak diungkapkan secara signifikan dan bahkan mungkin tidak berpengaruh secara nyata terhadap kehidupan lansia. Sikapnya tentu berbeda dengan sering bertentangan dengan sikap generasi yang lebih muda. Semua kelompok lansia sering kali mempertahankan sikap yang kuat, sehingga sikapnya lebih stabil dan sedikit sulit untuk berubah. Satu hal pada lansia yang diketahui sedikit berbeda dari orang yang lebih muda yaitu sikap mereka terhadap kematian. Hal ini menunjukkan bahwa lansia cenderung tidak terlalu takut terhadap konsep dan realitas kematian. Hal ini mungkin merupakan suatu gambaran adaptif pada penuaan.




2.4.         Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia
Perubahan-perubahan fisik
1        Sel
1.      Lebih sedikit jumlahnya
2.      Lebih besar ukurannya
3.      Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraseluler
4.      Menurunnya proporsi protein di otak, otot, darah, dan hati.
5.      Jumlah sel otak menurun.
6.      Terganggunya mekanisme perbaikan sel
7.      Otak menjadi atrofi, beratnya berkurang 5-10%
2        Sistem persarafan
1.      Berat otak menurun 10-20% (setiap orang berkurang sel otaknya dalam setiap harinya)
2.      Cepatnyan menurun hubungan persarafan
3.      Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres.
4.      Mengecilnya saraf panca indra. Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya saraf pencium dan perasa, lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya dengan ketahanan terhadap dingin.
5.      Kurang sensitif terhadap sentuhan
3        Sistem pendengaran
1.      Presbiakusis (gangguan pada pendengaran). Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit dimengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas 60 tahun
2.      Membran timpani menjadi atrofi menyebabkan otosklerosis.
3.      Terjadi pengumpulan serumen dapat mengeras karena menginkatnya keratin.
4.      Pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang mengalami ketegangan jiwa/stres.
4        Sistem penglihatan
1.      Sfingter pupil timbul skelerosis dan hilangnya tespon terhadap sinar.
2.      Kornea lebih berbentuk sferis (bola)
3.      Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) menjadi katarak, jelas menyebabkan gangguan penglihatan.
4.      Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, dan susah melihat dalam cahaya gelap
5.      Hilangny daya akomodasi
6.      Menurunnya lapangan pandang; berkurang luas pandangannya.
7.      Berkurangnya daya membedakan warna biru atau hijau pada skala.
5        Sistem kardiovaskuler
1.      Elastisitas dinding aorta menurun
2.      Katup jantung menebal dan menjadi kaku
3.      Kemampuan jantung untuk memompa menurun 1% setiap tahun sesudah berumut 20 tahun, hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
4.      Kehilangan elatisitas pembuluh darah; kurang efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenisasi, perubahan posisi dari tidur ke duduk (duduk ke berdiri) bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg (menyebabkan pusing mendadak)
5.      Tekanan darah meninggi diakibatkan oleh meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer; sistolis normal 170 mmHg, diastolis normal 90 mmHg.
6        Sistem pengaturan temperatur tubuh
Pada sistem pengaturan suhu, hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu termostat, yaitu menetapkan suatu suhu tertntu, kemunduran terjadi sebagai faktor yang mempengaruhinya. Yang sering ditemui antara lain;
  1. Sistem Temperatur
    1. Temperatur tubuh menurun (hipotermia) secara fisiologik ± 35o ini akibat metabolisme yang menurun
    2. Keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi rendahnya aktivitas otot.
  2. Sistem respirasi
    1. Otot-otot pernapasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku
    2. Menurunnya aktivitas dari silia
    3. Paru-paru kehilangan aktivitas; kapasitas residu meningkat, menarik nafas menjadi berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun, dan kedalaman bernafas menurun
    4. Alveoli ukurannya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang
    5. O2 pada arteri menurun menjadi 75 mmHg.
    6. CO2 pada arteri tidak berganti
    7. Kemampuan untuk batuk berkurang
    8. Kemampuan pegas, dinding, dada, dan kekuatan otot pernapasan akan menurun seiring degan bertambahnya usia.
  3. Sistem gastrointestinal
    1. Kehilangan gigi; penyebab utama adalah Periodental disease yang bisa terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk.
    2. Indera pengecap menurun; adanya iritasi yang kronis, dari selaput lendir, atropi indera pengecap (±80%), hilangnya sensitifitas dari saraf pengecap di lidah terutama rasa tentang rasa asin, asam, dan pahit.
    3. Eofagus melebar
    4. Lambung, rasa lapar menurun (sensitifitas lapar menurun), asam labung menurun, waktu mengosongkan menurun.
    5. Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi
    6. Fungsi absobsi melemah (daya absobsi terganggu)
    7. Liver (hati) makin mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya aliran darah.
  4. Sistem reproduksi
    1. Menciutnya ovari dan uterus
    2. Atrofi payudara
    3. Pada laku-laki testis masih dapat memproduksi spermatosoa, meskipun adanya penurunan secara beransur-ansur
    4. Dorongan seksual menetap sampai usia diatas 70 tahun (asal kondisi keksehatan baik), yaitu;
      • Kehidupan seksual dapat diupayakan sampai masa lanjut usia
      • Hubungan seksual secara teratur membantu mempertahankan kemampuan seksual
      • Tidak perlu cemas karena merupakan perubahan alami
    5. Selaput lendir vagina menurun, permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya menjadi alkali, dan terjadi perubahan-perubahan warna.
  5. Sistem genito urinaria
    1. Ginjal, merupaan alat untuk mengeluarkan sisa metabolisme tubuh, melalui urine darah yang masuk ke ginjal, disaring oleh satuan unit terkecil dari ginjal yang disebut nefron (tepatnya di glumerulus, kemudia mengecil dan nefron menjadi atrofi. Aliran darah ke ginjal menurun sampai 50%. Fungsi tubulus berkurang akibatnya; kurang kemapuan mengkonsentrasi urine, berat jenis urine menurun, proten uria.
    2. Vesika urinaria (kandung kemih); otot-ototnya menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200ml atau menyebabkan frekuensi buang air kecil meningkat. Vesika urinari susah dikosongkan sehingga meningkatkan retensi urine.
    3. Pembesaran prostat kurang lebih 75% dialami oleh pria usia di atas 65 tahun
    4. Atrofi vulva
  6. Sistem endokrin
    1. Produksi hampir semua hormon menurun
    2. Fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah
    3. Pituitari; hormon pertumbuhan ada tetapi lebih rendah tetapi rendah dan hanya dalam pembuluh darah, berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH, LH.
    4. Menurunnya aktifitas tiroid, BMR menurun.
  7. Sistem kulit
    1. Kulit mengerut atau keriput akibat kahilangan jaringan lemak
    2. Kulit kasar dan bersisik,
    3. Mekanisme proteksi kulit menurun
      • Produksi serum menurun
      • Gangguan pigmentasi kulit
    4. Kulit kepala dan rambut menipis
    5. Kelenjar  keringat berkurang jumlahnya
  8. Sistem muskuloskeletal
    1. Tulang kehilangan density (cairan) dan  makin rapuh
    2. Kifosis
    3. Discus intervertebralis menipis dan menjadi pendek
    4. Persendian membesar dan  menjadi pendek
    5. Tendon mengerut dan mengalami skelrosis

  1. Perubahan mental
    1. Faktor yang mempengaruhi perubahan mental
      • Perubahan fisik, organ perasa
      • Kesehatan umum
      • Tingkat pendidikan
      • Keturunan
      • Lingkungan
    2. Momory: jangka panjang (*berhari-hari yang lalu) mencakup beberapa perubahan. Kenangan jangka pendek (0-10 menit) kenangan buruk
    3. Intelegency; tidak berubah dengan  informasi matematik dan perkataan verbal.
    4. Berkurangnya keterampilan  psikomotor.





2.5.   Tugas Perawat Dalam Setiap Teori Penuaan
 Tugas Perawat dalam Teori Biologi

           Perawatan yang memperhatikan kesehatan objektif, kebutuhan, kejadian-kejadian yang dialami klien lansia semasa hidupnya, perubahan fisik pada organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa dicapai dikembangkan, penyakit yang dapat dicegah atau ditekan progresifitasnya.
Perawatan fisik secara umum bagi klien lansia dapat dibagi atas 2 bagian yakni :

a. Klien lansia yang masih aktif, dimana keadaan fisiknya masih mampu bergerak tanpa bantuan orang lain sehingga untuk kebutuhannnya sehari-hari masih mampu melakukan sendiri.
b. Klien lansia yang pasif atau tidak dapat bangun, dimana keadaan fisiknya mengalami kelumpuhan atau sakit.
Perawat harus mengetahui dasar perawatan klien lansia ini terutama hal-hal yang berhubungan dengan kebersihan  perorangan untuk mempertahankan kesehatannya. Kebersihan perorangan sangat penting dalam usaha mencegah timbulnya penyakit/peradangan mengingat sumber infeksi dapat timbul bila kebersihan kurang mendapat perhatian.
Disamping itu kemunduran kondisi fisik akibat proses penuaan dapat mempengaruhi ketahanan tubuh terhadap gangguan atau serangan  infeksi dari luar.
Untuk klien lansia yang aktif dapat diberikan bimbingan mengenai kebersihan  mulut dan gigi, kebersihan kulit dan badan, kebersihan  kuku dan rambut, kebersihan tempat tidur serta posisinya, hal makan, cara memakan obat, dan cara pindah dari tempat tidur ke kursi atau sebaliknya.
Komponen  pendekatan fisik yang lebih mendasar adalah  memperhatikan dan membantu para klien lansia untuk bernafas dengan lancar, makan (termasuk memilih dan menentukan makanan), minum melakukan eliminasi, tidur, menjaga sikap tubuh waktu berjalan, duduk, merubah  posisi tiduran, beristrahat, kebersihan tubuh, memakai dan menukar pakaian, mempertahankan suhu badan, melindungi kulit dari kecelakaan.

Dari hasil rangkuman Pertemuan Kesehatan persiapan Usia Lanjut oleh Depkes (1995) ditetapkan Penyaringan Kesehatan Lansia dengan cara sebagai berikut :
GIZI
a. Pengamatan
D = disease
E = eating poorly
T = tooth loss
E = economic hardship
R = reduced social contact
M = Multiple medicine
I = involuntary weight loss and gains
N = need assistance in self care
E = elder years
b. Pendidikan gizi dan konseling diet
c. Prinsip gizi yang harus diikuri oleh lansia :
- Kecukupan kalori 5 – 10 % kurang dari usia 20 – 25 tahun
- Kecukupan lemak maksimal 25 % diutamakan lemak tak jenuh
- Protein normal 10 – 12 % dari kecukupan energi, 10 % berasal dari hewani
- Hidrat arang, gula murni dikurangi
- Vitamin dan mineral harus cukup terutama vitamin B, Vitamin C, asam folat, kalsium dan Fe

Tugas Perawat Dalam Teori Sosial
           Perawat sebaiknya  memfasilitasi sosialisasi antar  lansia dengan mengadakan diskusi dan tukar pikiran serta bercerita sebagai salah satu upaya pendekatan sosial. Memberi kesempatan untuk berkumpul bersama berarti menciptakan sosialisasi antar manusia, yang menjadi pegangan bagi perawat bahwa orang yang dihadapinya adalah  mahluk sosial yang membutuhkan orang lain. Hubungan yang tercipta adalah  hubungan sosial antara werda dengan werda maupun werda dengan perawat sendiri.
           Perawat memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para werda untuk mengadakan komunikasi, melakukan rekreasi seperti jalan pagi, menonton film atau hiburan-hiburan lain karena mereka perlu diransang untuk mengetahui dunia luar. Dapat disadari bahwa pendekatan komunikasi dalam  perawatan tidak kalah pentingnya dengan upaya pengobatan medis dalam  proses penyembuhan atau ketenangan  para klien lansia.
Menurut Drs H. Mannan dalam  bukunya Komunikasi dalam Perawatan mengatakan : tidak sedikit klien tidak bisa tidur karena stres. Stres memikirkan penyakitnya, biaya hidup, keluarga yang dirumah, sehingga menimbulkan kekecewaan, rasa ketakutan  atau kekhawatiran, rasa kecemasan dan sebagainya. Untuk menghilangkan  rasa jemu dan menimbulkan perhatian terhadap sekelilingnya perlu diberikan  kesempatan  kepada mereka untuk antara lain ikut menikmati keadaan diluar, agar mereka merasa masih ada hubungan dengan dunia luar.
Tidak jarang terjadi pertengkaran dan  perkelahian diantara mereka (terutama bagi yang tinggal di panti werda ), hal ini dapat diatasi dengan berbagai usaha, antara lain selalu mengadakan kontak sesame  mereka, makan dan duduk  bersama, menanamkan rasa kesatuan dan persatuan, senasib dan sepenanggungan, mengenai hak dan kewajiban bersama. Dengan demikian perawat tetap mempunyai hubungan komunikasi baik sesama mereka maupun terhadap petugas yang secara langsung berkaitan dengan  pelayanan klien lansia di panti werda.
Tugas Perawat dalam Teori Psikologi
Perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan pendekatan  edukatif  pada klien lansia, perawat dapat berperan  sebagai supporter, interpreter  terhadap segala sesuatu yang asing sebagai penampung rahasia yang  pribadi dan  sebagai sahabat yang akrab. Perawat hendaknya memiki kesabaran dan ketelitian dalam  memberikan kesempatan dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai bentuk keluhan agar mereka merasa puas.
Pada dasarnya klien lansia membutuhkan rasa aman dan cinta kasih dari lingkungannya termasuk perawat yang memberikan perawatan. Untuk itu perawat harus menciptakan suasana yang aman, tidak gaduh, membiarkan mereka melakukan kegiatan dalam batas kemampuan dan hobby yang dimilikinya.
Perawat harus dapat membangkitkan semangat dan kreasi klien lansia dalam memecahkan dan mengurangi rasa putus asa, rasa rendah diri, rasa keterbatasan, sebagai akibat dari ketidak mampuan fisik dan  kelainan yang dideritanya, hal ini perlu dilakukan karena :
perubahan psikologi terjadi bersama dengan  makin lanjutnya usia. Perubahan-perubahan ini meliputi gejala-gejala seperti menurunnya daya ingat untuk peristiwa yang baru terjadi, berkurangnya kegairahan atau keinginan, peningkatan  kewaspadaan, perubahan pola tidur dengan suatu kecenderungan untuk tiduran di waktu siang dan pergeseran  libido.

Perawat harus sabar  mendengarkan cerita-cerita yang membosankan, jangan  mentertawakan atau memarahi bila klien lansia lupa atau bila melakukan kesalahan. Harus diingat, kemunduran ingatan akan  mewarnai tingkah  laku  mereka dan kemunduran  ingatan  jangan dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan  tertentu.
Bila perawat ingin merubah  tingkah  laku dan  pandangan mereka terhadap kesehatan, perawat bisa melakukannya secara perlahan-lahan dan bertahap, perawat harus dapat mendukung mental mereka ke arah pemuasan  pribadi sehingga pengalaman yang dilaluinya tidak menambah beban, bila perlu diusahakan agar di masa lansia ini mereka tetap merasa puas dan bahagia.






BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Proses penuaan dapat ditinjau dari aspek biologis, sosial dan psikologik. Teori-teori biologis sosial dan fungsional telah ditemukan  untuk menjelaskan dan mendukung berbagai definisi mengenai proses penuaan.
Dan pendekatan  multi disiplin mengenai teori penuaan, perawat harus memiliki kemampuan untuk mensintesa berbagai teori tersebut dan menerapkannya secara total pada lingkungan perawatan klien usia lanjut termasuk aspek fisik, mental/emosional dan aspek-aspek sosial. Dengan demikian  pendekatan eklektik akan menghasilkan dasar yang baik saat  merencanakan suatu asuhan  keperawatan berkualitas pada klien lansia.

3.2          Saran

         Kami sadari dalam  penyusunan makalah ini terdapat banyak kesalahan dan mungkin jauh dari tahapan  kesempurnaan. Maka dari itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat kami harapkan demi tercapainya penyusunan makalah yang  jauh  lebih baik dimasa yang akan datang



DAFTAR PUSTAKA

Cresoft. 2008. Perubahan-perubahan Yang Terjadi Pada Lansia
.http://creasoft.wordpress.com. Diakses pada tanggal 15 May 2012 16:26 WIB.

Huda. 2011.    Psikologi Perkembangan Masa Tua
.http://mnhmotivator.blogspot.com.Diaksespada tanggal 15 May 2012 15:24 WIB.

Gunawan S, Nardho, Dr, MPH, 1995, Upaya Kesehatan Usia Lanjut. Jakarta: Dep Kes R.I.

Lueckennotte, Annette G, 1996, Gerontologic Nursing, St. Louis : Mosby Year Incorporation.

Nugroho, Wahyudi, SKM, 1995, Perawatan Lanjut Usia, Jakarta : EGC

Anonym, Panduan Gerontologi, Jakarta: EGC
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar