DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAB
I PENDAHULUAN
1.1.Latar belakang ………………………………...…………………… 1
1.2.Tujuan penulisan ……………………………………………….…….. 1
1.3.Sistematika
penulisan ….…….……………………………………. 2
BAB
II PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Lansia dan Batasan Lansia ……………….…………….. 3
2.2
Pengertian Proses Penuaan …….…………………………………….
6
2.3
Teori-Teori Proses Penuaan ………………………………..…………
7
2.4
Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia
………………………………. 12
2.5
Tugas Perawat Dalam Setiap Proses Penuaan
……………………… 18
BAB
III PENUTUP
3.1
Kesimpulan …………………………………………………………... 22
3.2 Saran …………………………………………………………………. 22
DAFTAR
PUSTAKA
1.3 Sistematika penulisan
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAB
I PENDAHULUAN
1.1.Latar
belakang
1.2.Tujuan
penulisan
1.3.Sistematika
penulisan
BAB
II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Lansia dan Batasan
Lansia
2.2 Pengertian Proses Penuaan
2.3 Teori-Teori Proses Penuaan
2.4 Perubahan Yang Terjadi Pada
Lansia
2.5 Tugas Perawat Dalam Setiap
Proses Penuaan
BAB
III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR
PUSTAKA
KATA
PENGANTAR
Puji
dan Syukur kami Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan
Rahmat dan Karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini tepat pada
waktunya. Makalah ini membahas tentang PROSES PENUAAN.
Dalam
penyusunan makalah ini, kami banyak mendapat tantangan dan hambatan akan tetapi
dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Olehnya itu,
kami mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang
Maha Esa.kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari
bentuk penyusunan maupun materinya.
Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah
selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini
dapat memberikan manfaat kepada kita
sekalian.
Cianjur, mei 2012
Penulis
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang
Bertambahnya usia selalu meninggalkan bekas pada setiap makhluk hidup.,dan prinsip ini berlaku bagi
semua tingkat oragnisasi(molekul,sel, organ, danorganism). Rentang hidup
manusia menunjukkan periode perkembangan secara bertahap dengan meningkatnya efisiensi tubuh pada masa anak-anak dan remaja sampa mencapai
tingkat kematangan. Setelah melalui periode yang panjang dengan perubahan yang
kecil, terjadilah penurunan bertahap dalam kekuatan ,khususnya kekuatan fisik. Ini biasa
disebut periode menua.(Zarb G.A,2002)
Proses penuaan adalah proses yang tersembunyi, dan permulaannya berbeda-beda
antara tiap individu, demikian pula kecepatan penurunannya. Perubahan ini meliputi perubahan kekuatan jantung,
penurunan sekresi cairan pencernaan ,penurunan aktivitas endokrin. Pada
tingkatan psikologis, proses penuaan ini
ditandai dengan melambatnya waktu beraksi, melambatnya proses belajar, serta penurunan daya ingat dan
efisiensi intelektual. (G.A, 2000)
1.2.
Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Setelah
pembelajaran modul ini selesai, mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan
tentang proses penuaan serta dampak dan perubahan-perubahan yang terjadi
dalam rongga mulut lansia baik secara
fisiologis, morfologi maupun patologis.
1.2.2. Tujuan Khusus
Mahasiswa dapat memahami :
1. Menjelaskan
tentang pengertian dan batasan lansia
2. Menjelaskan
tentang pengertian proses penuaan
3. Menjelaskan
tentang teori-teori penuaan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Lansia dan Batasan Lansia
Lanjut usia
merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Dalam mendefinisikan batasan penduduk lanjut usia
menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ada tiga aspek yang perlu
dipertimbangkan yaitu aspek biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial (BKKBN
1998)
Secara
biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk
yang mengalam i proses penuaan secara terus menerus, yang
ditandai dengan menurunnya daya tahan
fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan
kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi
sel, jaringan, serta sistem organ.
Beberapa pendapat mengenai batasan
umur lansia.
MENURUT ORGANISASI KESEHATAN DUNIA
Lanjut usia meliputi:
- Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45
sampai 59 tahun.
- Lanjut usia (elderly) = antara 60 dan 74 tahun
- Lanjut usia tua (old) = antara 75 dan 90 tahun
- Usia sangat tua (very old) = diatas 90 tahun
MENURUT Prof. Dr. Ny. SUMIATI AHMAD
MOHAMMAD
Membagi periodisasi biologis
perkembangan manusia sebagai berikut:
- 0-1 tahun = masa bayi
- 1-6 tahun = masa prasekolah
- 6-10 tahun = masa sekolah
- 10-20 tahun = masa pubertas
- 40-65 tahun = masa setengah umur (prasenium)
- 65 tahun keatas = masa lanjut usia ( senium)
MENURUT Dra. Ny. JOS MASDANI (psikolog UI)
Lanut usia merupakan kelanjutan dari
usia dewasa. Kedewasaan dapat dibagi menjadi empat bagian
- Fase iuventus, antara 25 sampai 40 tahun
- Fase vertilitas, antara 40 sampai 50 tahun
- Fase prasenium, antara 55 sampai 65 tahun
- Fase senium, 65 tahun hingga tutup usia
MENURUT Prof. Dr. KOESMANTO
SETYONEGORO
Pengelompokan lanjut usia sebagai
berikut;
- Usia dewasa muda (elderly adulhood), 18 atau 29-25
tahun.
- Usia dewasa penuh (middle years) atau maturitas, 25-60
tahun atau 65 tahun
- Lanjut usia (geriatric age) lebih dari 65 tahun atau 70
tahun
o 70-75 tahun (yaoung old)
o 75-80 tahun (old)
o Lebih dari 80 (very old)
MENURUT UU No. 4 Tahun 1965
Dalam pasal 1 dinyatakan sebagai
berikut: seorang dapat dikatakan sebagai
jompo atau lanjut usia setelah yang
bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari
nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari
orang lain
(sekarang tidak relevan lagi)
MENURUT UU No. 13/Th.1998 tentang
kesejahteraan lanjut usia yang berbunyi sebagai berikut;
BAB 1 Pasal 1 Ayat 2 yang berbunyi:
Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 (enam puluh) tahun keatas.
Birren and Jenner (1997) membedakan usia menjadi tiga;
- Usia biologis;
Yang menunjuk kepada jangka waktu seseorang sejak lahirnya berada dalam keadaan
hidup dan mati
- Usia psikologis
Yang menunjuk pada kemampuan seseorang
untuk mengadakan penyesuaian-penyesuaian
kepada situasi yang dihadapinya.
- Usia sosial
Yang menunjuk kepada peran-peran
yang diharapkan atau diberikan masyarakat kepada seseorang sebungan dengan usianya.
2.2.
Pengertian Proses Penuaan
Penuaan adalah konsekuensi yang tidak dapat dihindarkan.
Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara
perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memeperbaiki diri/mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi
dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantindes, 1994)
Proses menua bukan merupakan suatu
penyakit, melainkan suatu masa atau tahap hidup manusia, yaitu; bayi, kanak-kanak,
dewasa, tua, dan lanjut usia. Orang mati bukan karena lanjut usia tetapi karena
suatu penyakit, atau juga suatu kecacatan.
Akan tetapi proses menua dapat
menyebabkan berkurangnya daya tahan tubuh dalam nenghadapi rangsangan dari
dalam maupun luar tubuh. Walaupun
demikian, memang harus diakui bahwa ada berbagai penyakit yang sering
menghinggapi kaum lanjut usia.
Proses menua sudah mulai berlangsung
sejak seseorang mencapai usia dewasa. Misalnya dengan terjadinya kehilangan
jaringan pada otot, susunan saraf, dan jaringan lain sehingga tubuh mati
sedikit demi sedikit.
Sebenarnya tidak ada batas yang
tegas, pada usia berapa penampilan seseorang mulai menurun. Pada setiap orang,
fungsi fisiologis alat tubuhnya sangat berbeda, baik dalam hal pencapain puncak maupun menurunnya.
2.3. Teori-Teori
Proses Penuaan
TEORI BIOLOGI
·
TEORI
SELULER
Kemampuan sel hanya dapat membelah
dalam jumlah tertentu dan kebanyakan sel-sel tubuh “diprogram” untuk membelah
50 kali. Jika sebuah sel pada lansia dilepas dari tubuh dan dibiakkan di
laboratorium, lalu diobservasi, jumlah sel-sel yang akan membelah, jumlah sel
yang akan membelah akan terlihat sedikit. (Spence & Masson dalam Waton,
1992). Hal ini akan memberikan beberapa pengertian terhadap proses penuaan
biologis dan menunjukkan bahwa pembelahan sel lebih lanjut mungkin terjadi
untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan, sesuai dengan berkurangnya umur.
Pada beberapa sistem, seperti sistem
saraf, sistem muskuloskeletal dan jantung, sel pada jaringan dan organ dalam
sistem itu tidak dapat diganti jika sel tersebut dibuang karena rusak atau
mati. Oleh karena itu, sistem tersebut beresiko mengalami proses penuaan dan
mempunyai kemampuan yang sedikit atau tidak sama sekali untuk tumbuh dan
memperbaiki diri. Ternyata sepanjang kehidupan ini, sel pada sistem ditubuh
kita cenderung mangalami kerusakan dan akhirnya sel akan mati, dengan
konsekuensi yang buruk karena sistem sel tidak dapat diganti.
·
TEORI
“GENETIK CLOCK”
Menurut teori ini menua telah
diprogram secara genetik untuk species-species tertentu. Tiap species mempunyai
didalam nuclei (inti selnya) suatu jam genetik yang telah diputar menurut suatu
replikasi tertentu. Jam ini akan menghitung mitosis dan menghentikan replikasi
sel bila tidak berputar, jadi menurut konsep ini bila jam kita berhenti kita
akan meninggal dunia, meskipun tanpa disertai kecelakaan lingkungan atau
penyakit akhir yang katastrofal.
Konsep genetik clock didukung oleh
kenyataan bahwa ini merupakan cara menerangkan mengapa pada beberapa species
terlihat adanya perbedaan harapan hidup yang nyata. (misalnya manusia; 116
tahun, beruang; 47 tahun, kucing 40 tahun, anjing 27 tahun, sapi 20 tahun)
Secara teoritis dapat dimungkinkan
memutar jam ini lagi meski hanya untuk beberapa waktu dengan pangaruh-pengaruh
dari luar, berupa peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit atau
tindakan-tindakan tertentu.
Usia harapan hidup tertinggi di
dunia terdapat dijepang yaitu pria76 tahun dan wanita 82 tahun (WHO, 1995)
Pengontrolan genetik umur rupanya
dikontrol dalam tingkat seluler, mengenai hal ini Hayflck (1980) melakukan
penelitian melalaui kultur sel ini vitro yang menunjukkan bahwa ada hubungan
antara kamampuan membelah sel dalam kultur dengan umur spesies.
Untuk membuktikan apakan yang
mengontrol replikasi tersebut nukleus atau sitoplasma, maka dilakukan
trasplantasi silang dari nukleus.
Dari hasil penelitian tersebut jelas
bahwa nukleuslah yang menentukan jumla replikasi, kemudian menua, dan mati,
bukan sitoplasmanya (Suhana, 1994)
SINTESIS
PROTEIN (kolagen
dan elastin)
Jaringan seperti kulit dan kartilago
kehilangan elastisitasnya pada lansia. Proses kehilangan elastisitas ini
dihubungkan dengan adanya perubahan kimia pada komponen perotein dalam jaringan
tersebut. Pada lansia beberapa protein (kolagen dan kartilago, dan elastin pada
kulit) dibuat oleh tubuh dengan bentuk dan struktrur yang berbeda dari protein
yang lebih muda. Contohnya banyak kolagen pada kartilago dan elastin pada
klulit yang kehilangan fleksibilitasnya serta menjadi lebih tebal, seiring
dengan bertambahnya usia. (Tortora & anagnostakos, 1990) hal ini dapat
lebih mudah dihubungkan dengan perubahan permukaan kulit yang kehilangan
elastisitasnya dan cenderung berkerut, juga terjadinya penurunan mobilitas dan
kecepatan pada sistem muskuloskeletal.
·
KERACUNAN
OKSIGEN
Teori tentang adanya sejumlah penurunan
kemampuan sel didalam tubuh untuk mempertahankan diri dari oksigen yang
mengandung zat racun dengan kadar yang tinggi, tanpa mekanisme pertahan diri
tertentu.
Ketidak mampuan mempertahankan diri
dari toksik tersebut membuat struktur membran sel mangalami perubahan dari
rigid, serta terjadi kesalahan genetik. (Tortora & anagnostakos, 1990)
Membran sel tersebut merupakan alat
untuk memfasilitasi sel dalam berkomunikasi dengan lingkungannya yang juga
mengontrol proses pengambilan nutrien dengan proses ekskresi zat toksik didalam
tubuh. Fungsi komponen protein pada membran sel yang sangat penting bagi proses
diatas, dipengaruhi oleh rigiditas membran tersebut. Konsekuensi dari kesalahan
genetik adalah adanya penurunan reproduksi sel oleh mitosis yang mengakibatkan
jumlah sel anak di semua jaringan dan organ berkurang. Hal ini akan menyebabkan
peningkatan kerusakan sistem tubuh.
·
SISTEM
IMUN
Kemampuan sistem imun mengalami
kemunduran pada masa penuaan. Walaupun demikian, kemunduran kamampuan sistem
yang terdiri dari sistem limfatik dan khususnya sel darah putih, juga merupakan
faktor yang berkontribusi dalam proses penuaan.
Mutasi yang berulang atau perubahan
protein pasca translasi, dapat menyebabkan berkurangnya kamampuan sistem imun
tubuh mengenali dirinya sendiri (self recognition). Jika mutasi somatik
menyebabkan terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel, maka hal ini akan
dapat menyebabkan sistem imun tubuh menganggap sel yang megalami perubahan
tersebut sebagi sel asing dan menghancurkannya. Perubahan inilah yang menjadi
dasar terjadinya peristiwa autoimun (Goldstein, 1989)
Hasilnya dapat pula berupa reaksi
antigen antibody yang luas mengenai jaringan-jaringan beraneka ragam, efek
menua jadi akan menyebabkan reaksi histoinkomtabilitas pada banyak jaringan.
Salah satu bukti yang ditemukan
ialah bertambahnya prevalensi auto antibodi bermacam-macam pada orang lanjut
usia (Brocklehurst, 1987)
Disisi lain sistem imun tubuh
sendiri daya pertahanannya mengalami penurunan pada proses menua, daya serangnya
terhadap sel kanker menjadi menurun, sehingga sel kanker leluasa
membelah-belah. Inilah yang menyebabkan kanker yang meningkat sesuai dengan
meningkatnya umur (Suhana, 1994)
Teori atau kombinasi teori apapun
untuk penuaan biologis dan hasil akhir penuaan, dalam pengertian biologis yang
murni adalah benar. Terdapat perubahan yang progresif dalam kemampuan tubuh
untuk merespons secara adaptif (homeostatis), untuk beradaptasi terhadap stres
biologis. Macam-macam stres dapat mencakup dehidrasi, hipotermi, dan proses
penyakit. (kronik dan akut)
TEORI PSIKOLOGIS
·
TEORI
PELEPASAN
Teori pelepasan memberikan pandangan
bahwa penyesuaian diri lansia merupakan suatu proses yang secara
berangsur-angsur sengaja dilakukan oleh mereka, untuk melepaskan diri dari
masyarakat.
·
TEORI
AKTIVITAS
Teori aktivitas berpandangan bahwa
walaupun lansia pasti terbebas dari aktivitas, tetapi mereka secara bertahap
mengisi waktu luangnya dengan melakukan aktivitas lain sebagai kompensasi dan
penyusuauian.
ASPEK PSIKOLOGIS AKIBAT LANJUT USIA
Aspek psikologis pada lansia tidak
dapat berlangsung tampak. Salah satu pengertian yang umum tentang lansia adalah
bahwa mereka mempunyai kemampuan memori dan kecerdasan mental yang kurang.
Penelitian tentang kemampuan aspek
kognitif dan kemampuan memori pada lansia dalam kelompok dan kemampuan mereka
untuk memcahkan masalah, ternyata tidak mendukung gambaran diatas. Adalah benar
bahwa banyak lansia mempunyai cara berbeda dalam memecahkan masalah, bahkan
mereka dapat melakukannya dengan baik walaupun kondisinya menurun. Akan tetapi,
juga terdapat bukti bahwa lansia mengalami kemunduran mental yang substansil
atau luas.
KEPERIBADIAN, INTELEGENSIA, DAN SIKAP
Meskipon sulit untuk mendefenisikan
dan mengukur keperibadian, namun upaya ini tetap dilakukan untuk mengubah
sedikit pemikiran tentang lansia. Walaupun mengalami kontroversi, tes
intelegensia dengan jelas memperlihatkan adanya penurunan kecerdasan pada lansia
(Cockburn & Smith, 1991).
Hal ini tidak diungkapkan secara
signifikan dan bahkan mungkin tidak berpengaruh secara nyata terhadap kehidupan
lansia. Sikapnya tentu berbeda dengan sering bertentangan dengan sikap generasi
yang lebih muda. Semua kelompok lansia sering kali mempertahankan sikap yang
kuat, sehingga sikapnya lebih stabil dan sedikit sulit untuk berubah. Satu hal
pada lansia yang diketahui sedikit berbeda dari orang yang lebih muda yaitu
sikap mereka terhadap kematian. Hal ini menunjukkan bahwa lansia cenderung
tidak terlalu takut terhadap konsep dan realitas kematian. Hal ini mungkin
merupakan suatu gambaran adaptif pada penuaan.
2.4. Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia
Perubahan-perubahan fisik
1
Sel
1.
Lebih
sedikit jumlahnya
2.
Lebih
besar ukurannya
3.
Berkurangnya
jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraseluler
4.
Menurunnya
proporsi protein di otak, otot, darah, dan hati.
5.
Jumlah
sel otak menurun.
6.
Terganggunya
mekanisme perbaikan sel
7.
Otak
menjadi atrofi, beratnya berkurang 5-10%
2
Sistem
persarafan
1.
Berat
otak menurun 10-20% (setiap orang berkurang sel otaknya dalam setiap harinya)
2.
Cepatnyan
menurun hubungan persarafan
3.
Lambat
dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres.
4.
Mengecilnya
saraf panca indra. Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya
saraf pencium dan perasa, lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan
rendahnya dengan ketahanan terhadap dingin.
5.
Kurang
sensitif terhadap sentuhan
3
Sistem
pendengaran
1.
Presbiakusis
(gangguan pada pendengaran). Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada
telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara
yang tidak jelas, sulit dimengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas 60
tahun
2.
Membran
timpani menjadi atrofi menyebabkan otosklerosis.
3.
Terjadi
pengumpulan serumen dapat mengeras karena menginkatnya keratin.
4.
Pendengaran
bertambah menurun pada lanjut usia yang mengalami ketegangan jiwa/stres.
4
Sistem
penglihatan
1.
Sfingter
pupil timbul skelerosis dan hilangnya tespon terhadap sinar.
2.
Kornea
lebih berbentuk sferis (bola)
3.
Lensa
lebih suram (kekeruhan pada lensa) menjadi katarak, jelas menyebabkan gangguan
penglihatan.
4.
Meningkatnya
ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, dan
susah melihat dalam cahaya gelap
5.
Hilangny
daya akomodasi
6.
Menurunnya
lapangan pandang; berkurang luas pandangannya.
7.
Berkurangnya
daya membedakan warna biru atau hijau pada skala.
5
Sistem
kardiovaskuler
1.
Elastisitas
dinding aorta menurun
2.
Katup
jantung menebal dan menjadi kaku
3.
Kemampuan
jantung untuk memompa menurun 1% setiap tahun sesudah berumut 20 tahun, hal ini
menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
4.
Kehilangan
elatisitas pembuluh darah; kurang efektifitas pembuluh darah perifer untuk
oksigenisasi, perubahan posisi dari tidur ke duduk (duduk ke berdiri) bisa
menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg (menyebabkan pusing mendadak)
5.
Tekanan
darah meninggi diakibatkan oleh meningkatnya resistensi dari pembuluh darah
perifer; sistolis normal 170 mmHg, diastolis normal 90 mmHg.
6
Sistem
pengaturan temperatur tubuh
Pada sistem pengaturan suhu,
hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu termostat, yaitu menetapkan suatu
suhu tertntu, kemunduran terjadi sebagai faktor yang mempengaruhinya. Yang
sering ditemui antara lain;
- Sistem
Temperatur
- Temperatur tubuh menurun (hipotermia) secara
fisiologik ± 35o ini
akibat metabolisme yang menurun
- Keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat
memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi rendahnya aktivitas otot.
- Sistem respirasi
- Otot-otot pernapasan kehilangan kekuatan dan menjadi
kaku
- Menurunnya aktivitas dari silia
- Paru-paru kehilangan aktivitas; kapasitas residu
meningkat, menarik nafas menjadi berat, kapasitas pernafasan maksimum
menurun, dan kedalaman bernafas menurun
- Alveoli ukurannya melebar dari biasa dan jumlahnya
berkurang
- O2 pada arteri menurun menjadi 75 mmHg.
- CO2 pada arteri tidak berganti
- Kemampuan untuk batuk berkurang
- Kemampuan pegas, dinding, dada, dan kekuatan otot
pernapasan akan menurun seiring degan bertambahnya usia.
- Sistem gastrointestinal
- Kehilangan gigi; penyebab utama adalah Periodental
disease yang bisa terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi
kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk.
- Indera pengecap menurun; adanya iritasi yang kronis,
dari selaput lendir, atropi indera pengecap (±80%), hilangnya sensitifitas dari saraf pengecap di
lidah terutama rasa tentang rasa asin, asam, dan pahit.
- Eofagus melebar
- Lambung, rasa lapar menurun (sensitifitas lapar
menurun), asam labung menurun, waktu mengosongkan menurun.
- Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi
- Fungsi absobsi melemah (daya absobsi terganggu)
- Liver (hati) makin mengecil dan menurunnya tempat
penyimpanan, berkurangnya aliran darah.
- Sistem reproduksi
- Menciutnya ovari dan uterus
- Atrofi payudara
- Pada laku-laki testis masih dapat memproduksi
spermatosoa, meskipun adanya penurunan secara beransur-ansur
- Dorongan seksual menetap sampai usia diatas 70 tahun
(asal kondisi keksehatan baik), yaitu;
- Kehidupan seksual dapat
diupayakan sampai masa lanjut usia
- Hubungan seksual secara
teratur membantu mempertahankan kemampuan seksual
- Tidak perlu cemas karena
merupakan perubahan alami
- Selaput lendir vagina menurun, permukaan menjadi
halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya menjadi alkali, dan
terjadi perubahan-perubahan warna.
- Sistem genito urinaria
- Ginjal, merupaan alat untuk mengeluarkan sisa
metabolisme tubuh, melalui urine darah yang masuk ke ginjal, disaring
oleh satuan unit terkecil dari ginjal yang disebut nefron (tepatnya di
glumerulus, kemudia mengecil dan nefron menjadi atrofi. Aliran darah ke
ginjal menurun sampai 50%. Fungsi tubulus berkurang akibatnya; kurang
kemapuan mengkonsentrasi urine, berat jenis urine menurun, proten uria.
- Vesika urinaria (kandung kemih); otot-ototnya menjadi
lemah, kapasitasnya menurun sampai 200ml atau menyebabkan frekuensi buang
air kecil meningkat. Vesika urinari susah dikosongkan sehingga
meningkatkan retensi urine.
- Pembesaran prostat kurang lebih 75% dialami oleh pria
usia di atas 65 tahun
- Atrofi vulva
- Sistem endokrin
- Produksi hampir semua hormon menurun
- Fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah
- Pituitari; hormon pertumbuhan ada tetapi lebih rendah
tetapi rendah dan hanya dalam pembuluh darah, berkurangnya produksi dari
ACTH, TSH, FSH, LH.
- Menurunnya aktifitas tiroid, BMR menurun.
- Sistem kulit
- Kulit mengerut atau keriput akibat kahilangan jaringan
lemak
- Kulit kasar dan bersisik,
- Mekanisme proteksi kulit menurun
- Produksi serum menurun
- Gangguan pigmentasi kulit
- Kulit kepala dan rambut menipis
- Kelenjar keringat berkurang jumlahnya
- Sistem muskuloskeletal
- Tulang kehilangan density (cairan) dan makin rapuh
- Kifosis
- Discus intervertebralis menipis dan menjadi pendek
- Persendian membesar dan menjadi pendek
- Tendon mengerut dan mengalami skelrosis
- Perubahan mental
- Faktor yang mempengaruhi perubahan mental
- Perubahan fisik, organ perasa
- Kesehatan umum
- Tingkat pendidikan
- Keturunan
- Lingkungan
- Momory: jangka panjang (*berhari-hari yang lalu)
mencakup beberapa perubahan. Kenangan jangka pendek (0-10 menit) kenangan
buruk
- Intelegency; tidak berubah dengan informasi matematik dan perkataan
verbal.
- Berkurangnya keterampilan psikomotor.
2.5. Tugas Perawat Dalam Setiap Teori Penuaan
Tugas Perawat dalam Teori Biologi
Perawatan
yang memperhatikan kesehatan objektif, kebutuhan, kejadian-kejadian yang
dialami klien lansia semasa hidupnya, perubahan fisik pada organ tubuh, tingkat
kesehatan yang masih bisa dicapai dikembangkan, penyakit yang dapat dicegah
atau ditekan progresifitasnya.
Perawatan fisik secara umum bagi klien lansia dapat dibagi
atas 2 bagian yakni :
a. Klien lansia yang masih aktif, dimana keadaan fisiknya masih mampu bergerak tanpa bantuan orang lain sehingga untuk kebutuhannnya sehari-hari masih mampu melakukan sendiri.
b. Klien lansia yang pasif atau tidak dapat bangun, dimana
keadaan fisiknya mengalami kelumpuhan atau sakit.
Perawat harus mengetahui dasar perawatan klien lansia ini terutama hal-hal yang berhubungan dengan kebersihan perorangan untuk mempertahankan kesehatannya. Kebersihan perorangan sangat penting dalam usaha mencegah timbulnya penyakit/peradangan mengingat sumber infeksi dapat timbul bila kebersihan kurang mendapat perhatian.
Disamping itu kemunduran kondisi fisik akibat proses penuaan dapat mempengaruhi ketahanan tubuh terhadap gangguan atau serangan infeksi dari luar.
Untuk klien lansia yang aktif dapat diberikan bimbingan mengenai kebersihan mulut dan gigi, kebersihan kulit dan badan, kebersihan kuku dan rambut, kebersihan tempat tidur serta posisinya, hal makan, cara memakan obat, dan cara pindah dari tempat tidur ke kursi atau sebaliknya.
Komponen pendekatan fisik yang lebih mendasar adalah memperhatikan dan membantu para klien lansia untuk bernafas dengan lancar, makan (termasuk memilih dan menentukan makanan), minum melakukan eliminasi, tidur, menjaga sikap tubuh waktu berjalan, duduk, merubah posisi tiduran, beristrahat, kebersihan tubuh, memakai dan menukar pakaian, mempertahankan suhu badan, melindungi kulit dari kecelakaan.
Perawat harus mengetahui dasar perawatan klien lansia ini terutama hal-hal yang berhubungan dengan kebersihan perorangan untuk mempertahankan kesehatannya. Kebersihan perorangan sangat penting dalam usaha mencegah timbulnya penyakit/peradangan mengingat sumber infeksi dapat timbul bila kebersihan kurang mendapat perhatian.
Disamping itu kemunduran kondisi fisik akibat proses penuaan dapat mempengaruhi ketahanan tubuh terhadap gangguan atau serangan infeksi dari luar.
Untuk klien lansia yang aktif dapat diberikan bimbingan mengenai kebersihan mulut dan gigi, kebersihan kulit dan badan, kebersihan kuku dan rambut, kebersihan tempat tidur serta posisinya, hal makan, cara memakan obat, dan cara pindah dari tempat tidur ke kursi atau sebaliknya.
Komponen pendekatan fisik yang lebih mendasar adalah memperhatikan dan membantu para klien lansia untuk bernafas dengan lancar, makan (termasuk memilih dan menentukan makanan), minum melakukan eliminasi, tidur, menjaga sikap tubuh waktu berjalan, duduk, merubah posisi tiduran, beristrahat, kebersihan tubuh, memakai dan menukar pakaian, mempertahankan suhu badan, melindungi kulit dari kecelakaan.
Dari hasil rangkuman Pertemuan Kesehatan persiapan Usia
Lanjut oleh Depkes (1995) ditetapkan Penyaringan Kesehatan Lansia dengan cara
sebagai berikut :
GIZI
a. Pengamatan
D = disease
E = eating poorly
T = tooth loss
E = economic hardship
R = reduced social contact
M = Multiple medicine
I = involuntary weight loss and gains
N = need assistance in self care
E = elder years
b. Pendidikan gizi dan konseling diet
c. Prinsip gizi yang harus diikuri oleh lansia :
- Kecukupan kalori 5 – 10 % kurang dari usia 20 – 25 tahun
- Kecukupan lemak maksimal 25 % diutamakan lemak tak jenuh
- Protein normal 10 – 12 % dari kecukupan energi, 10 % berasal dari hewani
- Hidrat arang, gula murni dikurangi
- Vitamin dan mineral harus cukup terutama vitamin B, Vitamin C, asam folat, kalsium dan Fe
a. Pengamatan
D = disease
E = eating poorly
T = tooth loss
E = economic hardship
R = reduced social contact
M = Multiple medicine
I = involuntary weight loss and gains
N = need assistance in self care
E = elder years
b. Pendidikan gizi dan konseling diet
c. Prinsip gizi yang harus diikuri oleh lansia :
- Kecukupan kalori 5 – 10 % kurang dari usia 20 – 25 tahun
- Kecukupan lemak maksimal 25 % diutamakan lemak tak jenuh
- Protein normal 10 – 12 % dari kecukupan energi, 10 % berasal dari hewani
- Hidrat arang, gula murni dikurangi
- Vitamin dan mineral harus cukup terutama vitamin B, Vitamin C, asam folat, kalsium dan Fe
Tugas
Perawat Dalam Teori Sosial
Perawat sebaiknya memfasilitasi sosialisasi antar lansia dengan mengadakan diskusi dan tukar pikiran serta bercerita sebagai salah satu upaya pendekatan sosial. Memberi kesempatan untuk berkumpul bersama berarti menciptakan sosialisasi antar manusia, yang menjadi pegangan bagi perawat bahwa orang yang dihadapinya adalah mahluk sosial yang membutuhkan orang lain. Hubungan yang tercipta adalah hubungan sosial antara werda dengan werda maupun werda dengan perawat sendiri.
Perawat memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para werda untuk mengadakan komunikasi, melakukan rekreasi seperti jalan pagi, menonton film atau hiburan-hiburan lain karena mereka perlu diransang untuk mengetahui dunia luar. Dapat disadari bahwa pendekatan komunikasi dalam perawatan tidak kalah pentingnya dengan upaya pengobatan medis dalam proses penyembuhan atau ketenangan para klien lansia.
Menurut Drs H. Mannan dalam bukunya Komunikasi dalam Perawatan mengatakan : tidak sedikit klien tidak bisa tidur karena stres. Stres memikirkan penyakitnya, biaya hidup, keluarga yang dirumah, sehingga menimbulkan kekecewaan, rasa ketakutan atau kekhawatiran, rasa kecemasan dan sebagainya. Untuk menghilangkan rasa jemu dan menimbulkan perhatian terhadap sekelilingnya perlu diberikan kesempatan kepada mereka untuk antara lain ikut menikmati keadaan diluar, agar mereka merasa masih ada hubungan dengan dunia luar.
Tidak jarang terjadi pertengkaran dan perkelahian diantara mereka (terutama bagi yang tinggal di panti werda ), hal ini dapat diatasi dengan berbagai usaha, antara lain selalu mengadakan kontak sesame mereka, makan dan duduk bersama, menanamkan rasa kesatuan dan persatuan, senasib dan sepenanggungan, mengenai hak dan kewajiban bersama. Dengan demikian perawat tetap mempunyai hubungan komunikasi baik sesama mereka maupun terhadap petugas yang secara langsung berkaitan dengan pelayanan klien lansia di panti werda.
Tugas Perawat dalam Teori Psikologi
Perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan pendekatan edukatif pada klien lansia, perawat dapat berperan sebagai supporter, interpreter terhadap segala sesuatu yang asing sebagai penampung rahasia yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrab. Perawat hendaknya memiki kesabaran dan ketelitian dalam memberikan kesempatan dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai bentuk keluhan agar mereka merasa puas.
Pada dasarnya klien lansia membutuhkan rasa aman dan cinta kasih dari lingkungannya termasuk perawat yang memberikan perawatan. Untuk itu perawat harus menciptakan suasana yang aman, tidak gaduh, membiarkan mereka melakukan kegiatan dalam batas kemampuan dan hobby yang dimilikinya.
Perawat harus dapat membangkitkan semangat dan kreasi klien lansia dalam memecahkan dan mengurangi rasa putus asa, rasa rendah diri, rasa keterbatasan, sebagai akibat dari ketidak mampuan fisik dan kelainan yang dideritanya, hal ini perlu dilakukan karena :
Perawat sebaiknya memfasilitasi sosialisasi antar lansia dengan mengadakan diskusi dan tukar pikiran serta bercerita sebagai salah satu upaya pendekatan sosial. Memberi kesempatan untuk berkumpul bersama berarti menciptakan sosialisasi antar manusia, yang menjadi pegangan bagi perawat bahwa orang yang dihadapinya adalah mahluk sosial yang membutuhkan orang lain. Hubungan yang tercipta adalah hubungan sosial antara werda dengan werda maupun werda dengan perawat sendiri.
Perawat memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para werda untuk mengadakan komunikasi, melakukan rekreasi seperti jalan pagi, menonton film atau hiburan-hiburan lain karena mereka perlu diransang untuk mengetahui dunia luar. Dapat disadari bahwa pendekatan komunikasi dalam perawatan tidak kalah pentingnya dengan upaya pengobatan medis dalam proses penyembuhan atau ketenangan para klien lansia.
Menurut Drs H. Mannan dalam bukunya Komunikasi dalam Perawatan mengatakan : tidak sedikit klien tidak bisa tidur karena stres. Stres memikirkan penyakitnya, biaya hidup, keluarga yang dirumah, sehingga menimbulkan kekecewaan, rasa ketakutan atau kekhawatiran, rasa kecemasan dan sebagainya. Untuk menghilangkan rasa jemu dan menimbulkan perhatian terhadap sekelilingnya perlu diberikan kesempatan kepada mereka untuk antara lain ikut menikmati keadaan diluar, agar mereka merasa masih ada hubungan dengan dunia luar.
Tidak jarang terjadi pertengkaran dan perkelahian diantara mereka (terutama bagi yang tinggal di panti werda ), hal ini dapat diatasi dengan berbagai usaha, antara lain selalu mengadakan kontak sesame mereka, makan dan duduk bersama, menanamkan rasa kesatuan dan persatuan, senasib dan sepenanggungan, mengenai hak dan kewajiban bersama. Dengan demikian perawat tetap mempunyai hubungan komunikasi baik sesama mereka maupun terhadap petugas yang secara langsung berkaitan dengan pelayanan klien lansia di panti werda.
Tugas Perawat dalam Teori Psikologi
Perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan pendekatan edukatif pada klien lansia, perawat dapat berperan sebagai supporter, interpreter terhadap segala sesuatu yang asing sebagai penampung rahasia yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrab. Perawat hendaknya memiki kesabaran dan ketelitian dalam memberikan kesempatan dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai bentuk keluhan agar mereka merasa puas.
Pada dasarnya klien lansia membutuhkan rasa aman dan cinta kasih dari lingkungannya termasuk perawat yang memberikan perawatan. Untuk itu perawat harus menciptakan suasana yang aman, tidak gaduh, membiarkan mereka melakukan kegiatan dalam batas kemampuan dan hobby yang dimilikinya.
Perawat harus dapat membangkitkan semangat dan kreasi klien lansia dalam memecahkan dan mengurangi rasa putus asa, rasa rendah diri, rasa keterbatasan, sebagai akibat dari ketidak mampuan fisik dan kelainan yang dideritanya, hal ini perlu dilakukan karena :
perubahan
psikologi terjadi bersama dengan makin
lanjutnya usia. Perubahan-perubahan ini meliputi gejala-gejala seperti
menurunnya daya ingat untuk peristiwa yang baru terjadi, berkurangnya
kegairahan atau keinginan, peningkatan kewaspadaan, perubahan pola tidur dengan suatu
kecenderungan untuk tiduran di waktu siang dan pergeseran libido.
Perawat harus sabar mendengarkan cerita-cerita yang membosankan, jangan mentertawakan atau memarahi bila klien lansia lupa atau bila melakukan kesalahan. Harus diingat, kemunduran ingatan akan mewarnai tingkah laku mereka dan kemunduran ingatan jangan dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan tertentu.
Bila perawat ingin merubah tingkah laku dan pandangan mereka terhadap kesehatan, perawat bisa
melakukannya secara perlahan-lahan dan bertahap, perawat harus dapat mendukung
mental mereka ke arah pemuasan pribadi
sehingga pengalaman yang dilaluinya tidak menambah beban, bila perlu diusahakan
agar di masa lansia ini mereka tetap merasa puas dan bahagia.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Proses
penuaan dapat ditinjau dari aspek biologis, sosial dan psikologik. Teori-teori biologis
sosial dan fungsional telah ditemukan untuk
menjelaskan dan mendukung berbagai definisi mengenai proses penuaan.
Dan pendekatan multi disiplin mengenai teori penuaan, perawat harus memiliki kemampuan untuk mensintesa berbagai teori tersebut dan menerapkannya secara total pada lingkungan perawatan klien usia lanjut termasuk aspek fisik, mental/emosional dan aspek-aspek sosial. Dengan demikian pendekatan eklektik akan menghasilkan dasar yang baik saat merencanakan suatu asuhan keperawatan berkualitas pada klien lansia.
Dan pendekatan multi disiplin mengenai teori penuaan, perawat harus memiliki kemampuan untuk mensintesa berbagai teori tersebut dan menerapkannya secara total pada lingkungan perawatan klien usia lanjut termasuk aspek fisik, mental/emosional dan aspek-aspek sosial. Dengan demikian pendekatan eklektik akan menghasilkan dasar yang baik saat merencanakan suatu asuhan keperawatan berkualitas pada klien lansia.
3.2
Saran
Kami sadari dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak
kesalahan dan mungkin jauh dari tahapan
kesempurnaan. Maka dari itu kritik dan saran yang membangun dari para
pembaca sangat kami harapkan demi tercapainya penyusunan makalah yang jauh lebih baik dimasa yang akan datang
DAFTAR
PUSTAKA
Cresoft.
2008. Perubahan-perubahan Yang Terjadi
Pada Lansia
Huda.
2011. Psikologi Perkembangan Masa Tua
Gunawan S,
Nardho, Dr, MPH, 1995, Upaya Kesehatan Usia Lanjut. Jakarta: Dep Kes R.I.
Lueckennotte, Annette G, 1996, Gerontologic Nursing, St. Louis : Mosby Year Incorporation.
Nugroho, Wahyudi, SKM, 1995, Perawatan Lanjut Usia, Jakarta : EGC
Anonym, Panduan Gerontologi, Jakarta: EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar